BOOK: The Environmental Problem – Its Causes & Islam’s Solution
Posted: Desember 17, 2009 in UncategorizedPress release
The Environmental Problem
Its Causes & Islam’s Solution
Copenhagen – 29. Dhul Hidjah 1430 A.H. / 16. December 2009 CE
In relation to the ongoing debate on the climate and the increasing focus on the condition of the environment, Hizb ut-Tahrir in Denmark has issued a booklet titled “The Environmental Problem – Its Causes & Islam’s Solution”.
The booklet points out the cultural causes behind the incompetence of the Western capitalist states in solving the environmental problem. It highlights the major industrial countries’ erroneous diagnosis and treatment of the environmental problem, and it clarifies that the solutions of the Western great powers practically serve the interests of their large industries at the expense of the environment. Furthermore, the booklet explains the Islamic view on the environment, as well as the way in which the institutions of the coming Islamic Khilafah-state will deal with the environmental problem.
The booklet, which exists in Danish as well as English and Arabic, has been distributed widely during the ongoing climate conference. It is possible to read or download the booklet at the following links:
In English: http://www.khilafah.com/images/images/PDF/Books/EnvEng.pdf
In Arabic: http://www.khilafah.com/images/images/PDF/Books/EnvAra.pdf
In Danish: http://www.khilafah.com/images/images/PDF/Books/miljoeproblemet.pdf
Chadi Freigeh
Media-representative of Hizb ut-Tahrir in Denmark
E-Mail: chadi@hizb-ut-tahrir.
Pada bulan Oktober 2009, Cina memperingati 60 tahun Revolusi dimana ia merdeka dari Cina dan mengalahkan kaum Nasionalis dengan terbentuknya Republik Sosialis Cina. Sejak awal abad ke 21 para analis memandang bangkitnya Cina sebagai tantangan terbesar terhadap Amerika Serikat (AS) dan banyak anggapan bahwa Cina akan berkembang menjadi negara adidaya. Cepatnya Cina menjadi negara yang diperhitungkan dalam peta politik dunia membuat banyak kalangan terkesima dan memprediksi adanya pergeseran kekuatan global dari Barat ke Timur. Cina tidak pernah menjadi kekuatan politik dan sejarah masa lalunya yang kelam akibat penjajahan brutal oleh Jepang selalu menjadi memori bagi Cina di masa paska Perang Dunia II. 60 tahun Revolusi pada negara terbesar di dunia merupakan realita baru dan untuk pertama kalinya diperhitungkan sebagai kekuatan adidaya.
Kunjungan Obama ke negeri-negeri Asia Tenggara diikuti lawatan ke Korea Selatan, Jepang, Singapur dan Cina, dimana ini merupakan kunjungan pertama kalinya sejak Obama menjadi presiden terpilih. Dari semua lawatan ini, kunjungan ke Cina merupakan aspek terpenting dari perjalanan Obama ini.
Cina membangun dirinya sejak tahun 1978 dengan mengembangkan sains dan teknologi, yang didorong dengan kepentingan militer. Pembangunan ini dimulai sejak jaman pemerintahan Mao. Mao menginginkan terbangunnya ‘militerisasi’ yang kuat diatas segala-galanya. Proyek ‘militerisasi’ inilah yang menjadi tulang punggung kebijakan Deng Xiao Ping. Tujuan Deng adalah untuk mendiversifikasi ekonomi Cina sehingga tidak hanya sektor hankam tetapi juga menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sipil. Konsep Deng yang berisi 16 butir tuntunan di awal 1980an secara gamblang menegaskan : mengintergrasikan petumbuhan sektor militer dan rakyat sipil, dengan memastikan memenuhi kebutuhan militer, mempertahankan kemampuan militer, dan menggunakan ekonomi sipil demi upaya modernisasi militer.”[1]
Sebelumnya Cina telah menerapkan sistem ekonomi terpimpin ala Soviet yang terbukti gagal. Deng lalu menggunakan Baca entri selengkapnya »
BUKU: Constructing an Industrialised Muslim World
Posted: November 25, 2009 in economics, islamic economicsTag:dunia Islam, industrialisasi
Pada Februari 2009 Iran berhasil membuat sejarah dengan mengorbitkan satelit buatan negeri Muslim yang pertama. Yang menjadikan perkembangan ini lebih menarik adalah kenyataan bahwa sekalipun Iran ada di bawah sanksi dan propaganda AS yang menyudutkan Iran, secara internal ia tetap mampu mengembangkan program luar angkasanya.
Iran telah merencanakan pembangunan rudal balistik yang canggih, saat ini satelit, dan merupakan satu-satunya Negara muslim yang telah meluncurkan satelit seperti ini dengan sedikit bantuan asing.
Industrialisasi dapat dimaknai sebagai kondisi dimana ekonomi berputar di sektor manufaktur yang kemudian menjadi stimulus bagi sektor-sektor ekonomi yang lainnya. Salah satu contohnya adalah ketika kekaisaran Inggris menjadikan sector manufaktur sebagai sentral dari kegiatan ekonominya. Pembuatan kapal laut, amunisi, dan pengolahan tambang telah mendorongnya untuk menjadi superpower global dengan kemampuan mobilisasi perang yang cepat dan memungkinkannya untuk menjajah dunia. Di masa damai, industri seperti itu di tujukan untuk kepentingan sipil.
Ini adalah alasan mendasar kebutuhan setiap bangsa terhadap industrialisasi; memiliki basis manufaktur yang mandiri menjadikan suatu bangsa self-sufficient dan menjadikannya mampu menghadapi negara-negara besar. Baca entri selengkapnya »
Argumen Zakat Profesi Syaikh al-Qordhowi: Antara Inkoherensi dan Bayang-bayang Kapitalisme
Posted: November 22, 2009 in Syari'ahTag:al-Qordhowi, nishob, profesi, zakat
Zakat profesi adalah jenis zakat yang dipopulerkan oleh syaikh Yusuf al-Qordhowi[1]. Beliau membahas masalah ini dalam buku beliau Fiqh Zakat yang merupakan disertasi beliau di universitas al-Azhar, dalam bab زكاة كسب العمل و المهن الحرة (zakat hasil pekerjaan dan profesi)[2].
Kadang dalam bahasa Arab zakat profesi disebut dengan الزكاة على الرواتب و الأجور (zakat atas gaji dan upah), atau juga زكاة دخل العمل (zakat hasil pekerjaan). Intinya, menurut syaikh al-Qordhowi, penghasilan (دخل / كسب / غرة / رواتب / أجور ) dari profesi ((عمل / مهن wajib dikeluarkan zakatnya pada saat diterima, jika sampai pada nishob setelah dikurangi hutang.[3] Jadi, menurut beliau zakat profesi bisa dikeluarkan harian, mingguan, atau bulanan.
Memang al-Qordhowi bukan orang yang pertama kali membahas masalah ini. Beliau sendiri di bagian pertama pembahasan zakat profesi mengutip penjelasan dari guru-guru beliau, seperti ‘Abdurrohman Hasan, Muhammad Abu Zahroh, dan ‘Abdulwahhab Kholaf.
Selain itu, yang menjadi persoalan juga bukan apakah pendapat beliau itu baru sama sekali atau tidak; karena pintu ijtihad memang selalu terbuka. Persoalan dalam kasus ini terletak pada bangunan argumentasi beliau. Baca entri selengkapnya »
Pada tanggal 15 Maret 2007 pernah diselenggarakan bedah buku Koreksi Terhadap Kesalahan Ilmu Kalam dan Filsafat Islam di aula Student Center UIN Syahid Jakarta. Acara bedah buku yang ditulis oleh M. Maghfur Wachid, MA tersebut menghadirkan penulis buku, Prof. Mulyadi Kartanegara, dan Prof. Aziz Fakhrurrazi dari UIN Jakarta. Buku ini mencoba menganalisa pengaruh perdebatan dalam Ilmu Kalam dan Filsafat Islam terhadap kemunduran yang pernah dialami umat Islam di sebagian masa Khilafah ‘Abbasiyah (abad ke 5-10 H). Apakah ada? Penulis buku menjawab: ya! Alasannya adalah karena perdebatan spekulatif mengenai metafisika seperti dzat-sifat Allah, kejadian-kejadian di akhirat, dan lain sebagainya yang dikaji oleh para ahli kalam dan filsafat Islam telah memalingkan umat Islam dari kegiatan dakwah kepada non-muslim di dunia ketika itu, ke dalam perdebatan yang melelahkan sesama umat Islam yang hanya menghasilkan—sebagaimana dikatakan al-Fakhr ar-Râzi (w. 606 H) : “qîla wa qâla” (katanya begini, katanya begitu), bingung! Padahal misi dakwah universal lah yang diantaranya telah memberikan kekuatan bagi umat Islam sebelumnya untuk dapat bangkit dan berjaya.
Berbicara mengenai spekulasi, sampai saat ini tampaknya masih banyak orang yang “menggemari” ide-ide yang dibangun berdasarkan spekulasi ini, tak terkecuali dalam diskursus keagamaan. Ide transcendent unity of religions (kesatuan transendental agam-agama)-nya Renne Guenon, Fritjof Schuon, dll, yang mengatakan bahwa semua agama memiliki tingkat kebenaran yang sama karena pada hakikatnya semuanya bersatu pada level transendental—di luar jangkauan manusia, dibangun berdasarkan spekulasi. Aksin Wijaya menulis tesis master tentang “Menggugat Wahyu Tuhan” yang menolak autentisitas al-Quran sebagai wahyu Allah yang murni, dengan menganalogikan language yang tidak pernah mampu mewakili parrol dalam komunikasi di dunia manusia kepada komunikasi wahyu dari Allah ke malaikat Jibril lalu ke nabi Muhammad; al-Quran yang berbahasa Arab dipandang tidak mampu mewakili maksud Allah; juga berupa spekulasi. Kadangkala ada pula mahasiswa yang meragukan Tuhan karena rasionya ingin mendapatkan jawaban pasti seputar kehendak-Nya: “Mengapa Ia menetapkan hanya ada satu agama yang benar, kenapa Ia menciptakan neraka, kenapa Ia tidak langsung saja memperlihatkan diri-Nya sehingga semua orang beriman?”dsb. Semuanya mencoba menggiring akal ke ranah metafisik yang di luar panca indera. Baca entri selengkapnya »
Beberapa Catatan tentang Turâts, Kemodernan, an-Nabhani, dan Masa Depan Kehidupan Islam
Posted: Juli 20, 2009 in Syari'ahTag:an-Nabhani, dalil syara', ijtihad, islamisasi ilmu, istidlal, istinbath, maqashid asy-syariah, modernitas, nash, perubahan, turats
Oleh C.B. Gama
Kehidupan manusia terus mengalami perubahan, perkembangan, dan kemajuan. Namun manusia sendiri berbeda pendapat tentang “apa sebenarnya” yang telah dan sedang berubah pada kehidupan mereka. Mereka juga akan lebih berbeda pendapat tentang “apa yang seharusnya” terjadi dalam perubahan, perkembangan, dan kemajuan tersebut. Untuk yang terakhir ini, permasalahannya akan sangat ditentukan oleh cara pandang tentang realitas (worldview), yang menjadi inti dari setiap peradaban.
Filsafat modern dan sains secara salah telah menganggap perubahan sebagai realitas mutlak, yang akhirnya melahirkan sebuah prinsip: “Segala sesuatu itu berubah kecuali perubahan itu sendiri”. Prinsip ini adalah salah satu karakter utama peradaban Barat dalam mengafirmasi relativitas realitas yang memberinya alasan kuat untuk menyandarkan tatanan nilainya pada dasar-dasar yang sekuler, material, dan inderawi. Inilah sebabnya, peradaban Barat—menurut Naquib al-Attas, “Selalu berubah dan ‘menjadi’ (becoming) sesuatu yang tidak pernah ‘ada’ (being) kecuali bahwa ‘adanya’ itu akan selalu menjadi sesuatu yang ‘menjadi’ (becoming).”[1]
Sedangkan dalam Islam, perubahan, perkembangan, dan kemajuan lebih dimaknai sebagai suatu gerakan sadar dan disengaja menuju Islam yang murni (genuin).[2] Islam mengakui adanya perubahan. Namun Islam tidak memandang setiap perubahan sebagai perkembangan ataupun kemajuan. Kemajuan juga tidak bisa diartikan sebagai terus-menerus ‘menjadi’ tanpa pernah ‘jadi’ karena memang sejak awal tidak ada tujuan akhir. Kemajuan lebih dimaknai sebagai bergerak secara pasti menuju tujuan akhir yang telah final dalam kehidupan ini. Jika tujuan akhir ini masih kabur, maka tidak akan ada kemajuan.[3] Disinilah konsep tajdîd dalam Islam sebenarnya lebih tepat diartikan sebagai pemurnian (refinement): kembali ke ajaran asal. [4]
Namun demikian, keharusan untuk tetap eksis dalam perubahan dengan tetap mempertahankan kemurnian inilah yang menjadi salah satu tantangan terbesar kehidupan umat Islam. Seperti apakah Islam yang murni? Apakah elemen dari ‘ajaran Islam’ yang sudah final dan mana yang berubah? Bagaimana merespon berbagai perubahan yang terjadi? adalah pertanyaan-pertanyaan yang selalu harus dijawab oleh umat. Terma-terma seperti ijtihad, salafi, Islamisasi, dan—dalam batas tertentu, kontekstualisasi tampaknya bisa dipandang sebagai wujud adanya usaha ini. Baca entri selengkapnya »
Hizbut Tahrir Indonesia Kecam Pelaku Peledakan Bom JW Marriot dan Ritz Carlton
Posted: Juli 19, 2009 in politicsTag:bom di Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton
Sebagaimana telah diberitakan secara meluas bahwa pada Jumat 17 Juli 2009 sekitar jam 7 pagi telah terjadi ledakan bom di Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta. Ledakan dahsyat di kedua hotel itu diberitakan telah mengakibatkan 9 orang meninggal dunia dan lebih dari 50 orang luka-luka. Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:
1. Mengutuk pelaku peledakan bom itu sebagai tindakan dzalim luar biasa. Baca entri selengkapnya »
