Pada Februari 2009 Iran berhasil membuat sejarah dengan mengorbitkan satelit buatan negeri Muslim yang pertama. Yang menjadikan perkembangan ini lebih menarik adalah kenyataan bahwa sekalipun Iran ada di bawah sanksi dan propaganda AS yang menyudutkan Iran, secara internal ia tetap mampu mengembangkan program luar angkasanya.
Iran telah merencanakan pembangunan rudal balistik yang canggih, saat ini satelit, dan merupakan satu-satunya Negara muslim yang telah meluncurkan satelit seperti ini dengan sedikit bantuan asing.
Industrialisasi dapat dimaknai sebagai kondisi dimana ekonomi berputar di sektor manufaktur yang kemudian menjadi stimulus bagi sektor-sektor ekonomi yang lainnya. Salah satu contohnya adalah ketika kekaisaran Inggris menjadikan sector manufaktur sebagai sentral dari kegiatan ekonominya. Pembuatan kapal laut, amunisi, dan pengolahan tambang telah mendorongnya untuk menjadi superpower global dengan kemampuan mobilisasi perang yang cepat dan memungkinkannya untuk menjajah dunia. Di masa damai, industri seperti itu di tujukan untuk kepentingan sipil.
Ini adalah alasan mendasar kebutuhan setiap bangsa terhadap industrialisasi; memiliki basis manufaktur yang mandiri menjadikan suatu bangsa self-sufficient dan menjadikannya mampu menghadapi negara-negara besar. Tanpa melakukan industrialisasi, suatu negara tidak akan bias mandiri secara politik dan ekonomi, ia akan bergantung pada Negara lain dalam mengurus pertahanannya dan tergantung pada keinginan mereka, seperti yang terjadi di negeri-negeri muslim saat ini.
Jika kita cermati kondisi negeri-negeri muslim saat ini sebenarnya kita bisa melihat adanya perkembangan pada aspek teknologi dan militer sekalipun mereka bukanlah negara-negara industri. Akan tetapi, industri di negeri-negeri muslim saat ini secara keseluruhan masih jauh dari yang seharusnya. Mereka benar-benar jauh tertinggal dibanding dengan negara-negara industri. Sekalipun Barat telah melalui masa industrialisasi sejak 150 tahun yang lalu, tetapi negeri-negeri muslim masih juga belum mengalaminya, bahkan kebanyakan dari mereka masih bergantung kepada negara-negara maju.
Banyak para pengamat dan analis dunia yang berpandangan bahwa dunia Islam tidak memiliki syarat-syarat mutlak untuk melakukan industrialisasi. Mereka mengatakan bahwa sistem pendidikan di dunia Islam masih merupakan sisa-sisa abad pertengahan. Mereka berargumen bahwa dunia Islam tidak memiliki rasionalitas sebagaimana dimiliki Barat untuk menakukan penelusuran dan pencapaian ilmu pengetahuan sebagai prasyarat pasti bagi industrialisasi. Banyak pemikir liberal berpendapat bahwa Islam merupakan peyebab ketertinggalan dunia Islam dan hanya melalui suatu reformasi (terhadap Islam) lah jalan keluar bisa didapatkan.
Pada saat yang sama, para pemimpin dunia Islam mengatur urusan ekonomi mereka dengan sedikit arahan, mengandalkan kebijakan jangka pendek, dan hanya memberi sedikit perhatian pada pendanaan aspek-aspek industri itu pun karena berjaga untuk menghadapi perang, dan didasarkan pada kepentingan-kepentingan nasionla jangka pendek, tidak untuk kepentingan jangka panjang umat Islam. Para penguasa Timur Tengah selalu beralasan bahwa mereka tidak bisa merebut kembali Palestina karena kekuatan militer Israel. Yasset Arafat beralasan tentang berbagai penindasan yang menimpa para pengungsi Palestina, bahwa Israel memiliki senjata nuklir, sehingga satu-satunya solusi adalah negosiasi. Pervez Musharraf selau beralasan bahwa ia tidak memiliki pilihan selain mendukung perang AS melawan Afganistan karena Pakistan tidak memiliki kekuatan politik dan militer yang cukup untuk melawan permintaan AS.
Tujuan dari buku ini adalah untuk menggambarkan kondisi ekonomi dan posisi industri dunia Islam saat ini. Berbagai klaim dari para penguasa Muslim dan para analis Barat tentang prospek industrialisasi dunia Islam juga akan dibahas. Fakta dan prospek industrialisasi dunia Islam akan dikaji beriringan dengan berbagai mitos seputarnya, yang sayangnya diterima secara luas oleh umat Islam seolah merupakan kebenaran. Blueprint umum juga akan dihadirkan tentang bagaimana Khilafah bisa melakukan industrialisasi negeri-negeri muslim dan merubahnya dari kondisi mundur saat ini menuju negara superpower.
Adnan Khan
14 Oktober 2009
(Diterjemahkan oleh CB. Gama dari http://khilafah.com/index.php/multimedia/books/7990-book-constructing-an-industrialised-muslim-world )
“Iran telah merencanakan pembangunan rudal balistik yang canggih, saat ini satelit…” jujur saya ga ngerti maksud kalimat ini..^^
Tapi secara keseluruhan artikel ini menarik…membuka wawasan baru.
Thanks for posting. Ditunggu postingan lainnya.
Maksudnya, “dulu rudal, sekarang satelit”. (maaf terjemahan artikel ini emang belum diedit secara baik ^^)
Rudal tersebut sudah diuji coba oleh Garda Revolusi pada Rabu 9 Juli 2008.
Kalo satelit sudah diluncurkan pada Selasa 3 Februari 2009.
Bisa dilihat di http://www.eramuslim.com/berita/dunia/iran-luncurkan-satelit-as-ketakutan.htm